I Gede Selamet (21), seorang sopir truk asal Bali, menghembuskan napas terakhir setelah menerima perawatan intensif selama seminggu di rumah sakit. Kejadian tragis ini berawal ketika dia dibakar hidup-hidup oleh bosnya akibat perselisihan terkait uang setoran.
Kematian Selamet memberikan dampak mendalam tidak hanya bagi keluarganya, tetapi juga bagi masyarakat luas yang terkejut dengan kasus kekerasan tersebut. Tindakan keji tersebut menuai perhatian dan mengundang banyak simpati dari berbagai kalangan.
Kepala Desa Muncan, I Wayan Tunas, menyatakan bahwa keluarga Selamet masih dalam proses musyawarah untuk pemulangan jenazahnya ke kampung halaman. Mereka perlu mempertimbangkan waktu yang tepat mengingat sedang berlangsungnya upacara keagamaan di desa.
Rangkaian Peristiwa yang Menghentak Pikiran
Pembakaran Selamet terjadi pada Jumat (18/9) lalu, di mana pelaku, I Putu Cahyadi Putra (37), mengakibatkan luka bakar parah di tubuh korban. Perselisihan yang berujung pada tindakan kriminal ini terjadi di dalam kamar selamet, yang berimplikasi jauh lebih serius daripada hanya sekedar masalah uang.
Menurut saksi yang ada, Selamet berusaha melarikan diri dengan kondisi terbakar, berteriak meminta pertolongan. Tindakan kejam tersebut meninggalkan luka mendalam bukan hanya di tubuhnya, tetapi juga di hati keluarga dan teman-temannya.
Usai kejadian, polisi segera menangkap Putu Cahyadi dan menetapkannya sebagai tersangka. Hal ini menunjukkan respons cepat dari aparat penegak hukum dalam menangani kasus kekerasan yang memprihatinkan ini.
Tantangan Keluarga dalam Menanggung Biaya Perawatan
Meskipun dukungan dari berbagai unsur mulai mengalir, biaya pengobatan Selamet menjadi tantangan tersendiri bagi keluarganya. Di tengah proses perawatan, mereka harus berjuang melawan biaya yang terus membengkak, yang tidak bisa dicover oleh BPJS Kesehatan karena statusnya sebagai korban tindak kriminal.
Tagihan medis mencapai angka Rp88 juta hanya sehari sebelum Selamet meninggal dunia. Keluarga hanya bisa mengandalkan donasi dari relawan dan masyarakat yang selama ini baru terkumpul sekitar Rp35 juta.
Menanggapi kondisi ini, Wakil Presiden memberikan perhatian khusus dengan menyalurkan bantuan sebesar Rp25 juta. Ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah kepada korban kekerasan yang tengah berjuang untuk hidup.
Kesedihan Mendalam Bagi Orang-orang Terdekat
Kepergian Selamet meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarganya, yang sebelumnya sudah berusaha keras untuk menutupi biaya pengobatan. Masyarakat sekitar juga merasakan dampak kepergiannya, menyadari bahwa mereka kehilangan sosok yang berharga.
Selain itu, tragedi ini mengingatkan komunitas akan pentingnya menciptakan lingkungan yang aman, di mana kekerasan tidak lagi menjadi solusi dalam menyelesaikan permasalahan. Ada harapan ke depannya agar kejadian serupa tidak terulang lagi.
Dalam wawancara, Kepala Desa mengungkapkan rasa kehilangan dan mengajak semua pihak untuk bersatu dalam mengenang Selamet, serta memberi dukungan kepada keluarga yang tengah berduka.







