Jakarta – Fedi Nuril kembali menarik perhatian publik dengan akting terbarunya dalam film berjudul Bapakmu Kiper. Dalam proses syuting film ini, ia mengaku mendapatkan banyak pembelajaran berharga mengenai pola asuh anak remaja, sebuah tema yang relevan bagi banyak orang tua saat ini.
Dalam wawancaranya, Fedi mengungkapkan bahwa perannya sebagai Warto memberikan perspektif baru tentang pentingnya komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak. Ia menyadari bahwa membangun keterbukaan dapat mencegah munculnya batasan emosional dalam hubungan keluarga.
“Kesannya adalah ini pembelajaran saya karena kan anak-anak saya itu masih kecil-kecil. Ketika berakting dan menjelajahi bagaimana memiliki anak remaja, itu jadi pembelajaran saya sih. Insya Allah bisa menjadi bekal nanti kalo anak-anak saya udah remaja,” tutur Fedi Nuril saat ditemui di XXI Metropole, Jakarta Pusat.
Fedi juga memberikan perhatian khusus pada pentingnya bagi orang tua untuk bersikap adil terhadap semua anak. Ia menekankan bahwa dekatnya hubungan antara orang tua dengan anak tidak seharusnya dibatasi oleh perbedaan gender, baik laki-laki maupun perempuan.
“Jadi saya belajar bahwa ibu biasanya lebih dekat dengan anak laki-laki, sedangkan ayah lebih dekat dengan anak perempuan. Namun, saya tidak ingin hal tersebut menjadi pembatas,” jelasnya dengan tegas.
Menggali Keterbukaan Dalam Keluarga
Keterbukaan antara orang tua dan anak adalah faktor kunci dalam menciptakan hubungan yang sehat dan harmonis. Fedi menyatakan bahwa komunikasi yang baik membantu anak merasa diperhatikan dan dipahami, sehingga mereka lebih mudah berbagi masalah dan kekhawatiran.
Fedi juga menekankan bahwa penting bagi orang tua untuk aktif mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh anak. Pendekatan ini memberikan anak rasa percaya diri untuk terbuka mengenai perasaan dan pemikiran mereka.
Sebagai orang yang sudah berpengalaman dalam dunia hiburan, Fedi menyadari betapa pentingnya contoh yang diberikan oleh orang tua. Ia percaya bahwa sikap dan perilaku orang tua akan ditiru oleh anak-anak, sehingga positif negatifnya perlu diperhatikan dengan baik.
Melalui film ini, Fedi berharap dapat menyampaikan pesan mengenai pentingnya keberanian dalam berkomunikasi. Ia ingin penonton melihat bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya ingin anak-anak melihat betapa pentingnya berkomunikasi, tidak hanya berbicara tapi juga mendengarkan,” ungkapnya.
Belajar Dari Pengalaman Peran Orang Tua Dalam Film
Fedi mengakui bahwa selama berperan dalam film, ia juga mengaplikasikan banyak hal yang baru dipelajari ke dalam kehidupannya sehari-hari sebagai seorang ayah. Ia merasakan bagaimana tantangan yang dihadapi orang tua dalam menemani pertumbuhan anak-anak, terutama saat mereka memasuki masa remaja.
Masa remaja adalah fase yang penuh dengan perubahan dan pencarian jati diri, dan Fedi menyadari hal ini menjadi tantangan tersendiri. Ia berkomitmen untuk terus belajar agar dapat menjadi orang tua yang lebih baik.
Selain itu, Fedi juga menghargai peran istri dalam mendukung proses tersebut. Ia merasa bahwa kolaborasi antara kedua orang tua menjadi sangat penting untuk menciptakan suasana keluarga yang harmonis.
“Kami saling mendukung dan belajar satu sama lain. Ini bukan hanya tentang saya, tetapi tentang bagaimana kita berdua membesarkan anak-anak,” imbuhnya.
Dengan pengalaman yang didapat dari film, Fedi berharap dapat memberikan dampak positif bagi para penonton, terutama yang sedang menjalani fase sama dalam hidup mereka.
Pentingnya Kesetaraan Dalam Keluarga
Pada kesempatan yang sama, Fedi juga menyinggung pentingnya kesetaraan dalam mendidik anak. Ia menelaah bagaimana orang tua seringkali cenderung memiliki ikatan khusus dengan satu anak berdasarkan gender, tetapi ia memilih untuk memperlakukan semua anaknya secara sama.
“Saya percaya bahwa setiap anak unik dan harus diperlakukan khusus berdasarkan kepribadian mereka, bukan gendernya,” jelasnya. Sikap ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan positif bagi anak-anak.
Fedi mengajak semua orang tua untuk membuka pikiran dan tidak membiarkan norma-norma sosial mengatur cara mereka mendekati hubungan dengan anak. Pendekatan yang lebih egaliter membantu anak merasa lebih dicintai dan dihargai.
Ia juga menyadari bahwa setiap orang tua memiliki tantangan tersendiri dalam membesarkan anak. Oleh karena itu, saling mendukung antar orang tua bisa menjadi kunci untuk menciptakan keluarga yang sehat.
“Kita semua adalah orang tua yang sedang belajar. Mari kita berbagi dan saling mendukung satu sama lain,” tutupnya dengan optimisme.







