Musisi Fariz RM mengungkapkan kekecewaan mendalam setelah terlibat dalam kasus dugaan pelanggaran hak cipta. Ia merasa dikhianati oleh pihak-pihak yang sebelumnya memiliki hubungan baik dengannya, yang membuat situasi ini semakin menyedihkan bagi sang musisi.
Pengakuannya ini muncul saat ia menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya, Jakarta. Fariz mengungkapkan bahwa ia pernah membantu orang-orang tersebut, sehingga kekecewaannya semakin dalam ketika mengetahui tindakan mereka yang dianggap melanggar hak karyanya.
Kekecewaan Fariz RM terhadap Hubungan yang Terbangun
Selama pernyataannya, Fariz RM menekankan betapa pentingnya menjaga etika dalam dunia seni. Menurutnya, hubungan baik seharusnya tidak hanya diukur dari bantuan materiel, tetapi juga dari penghormatan terhadap karya intelektual orang lain.
“Ke mana persahabatan lama itu?” tanyanya retoris, menggambarkan rasa frustrasinya. Fariz tampaknya berharap bahwa tindakan melanggar hak cipta tidak akan datang dari orang-orang yang pernah dekat dengannya.
Sikap yang diambil Fariz RM ini menunjukkan komitmennya terhadap seni dan hak cipta. Ia menekankan bahwa kerugian yang dialaminya bukan hanya dalam bentuk finansial, tetapi juga dalam bentuk moral dan etika.
Proses Mediasi yang Tidak Berhasil
Fariz RM telah memberikan waktu selama satu tahun kepada pihak terlapor untuk menyelesaikan masalah ini secara damai. Meskipun sudah ada kesempatan untuk mediasi, pihak-pihak tersebut tidak memberikan respons yang diharapkannya.
“Kami menunggu mediasi dan itikad baik, tapi tidak ada respons yang proporsional. Saya kecewa,” ungkapnya. Situasi ini memperlihatkan betapa sulitnya mencari penyelesaian yang memuaskan dalam masalah hak cipta.
Selama waktu setahun ini, Fariz berharap ada langkah-langkah positif dari pihak terlapor untuk menuntaskan perkara ini. Namun, realitas yang dihadapinya menunjukkan sebaliknya, membuatnya semakin frustasi.
Aspek Etika dalam Penggunaan Karya Intelektual
Fariz RM menekankan bahwa penggunaan karya orang lain harus mengikuti aturan yang berlaku, terutama dalam hal izin. Ia percaya bahwa pelanggaran hak cipta mencerminkan kurangnya penghormatan terhadap nilai-nilai seni.
“Kerugian terbesar saya sebenarnya adalah kekecewaan dan persoalan etika,” jelas Fariz. Ini menunjukkan bahwa nilai-nilai dan integritas dalam berkarya jauh lebih penting baginya dibandingkan dengan uang semata.
Dalam industri musik, etika dan penghormatan terhadap karya orang lain seharusnya menjadi prioritas. Tindakan pelanggaran bisa berakibat buruk tidak hanya bagi artis yang bersangkutan, tetapi juga bagi seluruh ekosistem seni.







