Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan melaporkan bahwa hingga 9 Juli 2026, telah terjadi 306 kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut. Tren peningkatan kejadian ini seiring dengan masuknya musim kemarau, yang menyebabkan kondisi lahan menjadi semakin kering dan mudah terbakar.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumatera Selatan, Sudirman, mencatat bahwa pengurangan intensitas hujan telah berkontribusi pada peningkatan frekuensi kejadian karhutla ini. Dia menjelaskan bahwa angka kebakaran semakin meningkat, terutama pada bulan-bulan terakhir, menandakan perlunya tindakan lebih lanjut untuk menanggulangi masalah ini.
“Dari total 306 kasus ini, sebagian besar kejadian terjadi sejak memasuki musim kemarau, dan kami terus melakukan langkah-langkah pencegahan,” ujar Sudirman saat memberikan informasi di Palembang.
Statistik Kebakaran Hutan dan Lahan di Sumatera Selatan
Berdasarkan data dari BPBD, sebanyak 87 kejadian karhutla tercatat terjadi hanya dalam periode 1-9 Juli 2026. Jumlah ini hampir setara dengan total kejadian yang tercatat sepanjang bulan Mei yang hanya mencapai 91 kasus.
Sementara itu, bulan Juni mencatat sebanyak 117 kasus. Peningkatan jumlah kejadian ini menunjukkan bahwa kondisi cuaca yang kurang mendukung sangat berpengaruh terhadap kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut.
Awalnya, kasus karhutla di Sumatera Selatan tergolong rendah pada awal tahun, dengan tidak ada kejadian di bulan Januari, satu kejadian di Februari, enam kejadian di Maret, dan empat kejadian di April. Namun, fenomena cuaca yang berlebihan di bulan Mei membuka peluang untuk meningkatnya jumlah kebakaran.
Kondisi Geografis dan Dampaknya Terhadap Kebakaran
Berdasarkan analisis lebih dalam, wilayah Sumatera Selatan memiliki banyak lahan gambut dan tanaman berkayu, yang membuatnya sangat rentan terhadap kebakaran. Ketika musim kemarau tiba dan curah hujan menurun, lahan-lahan ini cepat mengering.
Keberadaan beberapa daerah, seperti Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Musi Banyuasin, dan Ogan Ilir, menjadi penyumbang terbesar dari kejadian karhutla. Kabupaten PALI saja mencatatkan 54 kejadian, menjadikannya wilayah dengan kebakaran terbanyak.
Data menunjukkan bahwa kondisi kering yang berkepanjangan memicu daya bakar lahan untuk meningkat. Beberapa wilayah lain juga tercatat tinggi dalam angka kebakaran, yang memperingatkan bahwa potensi kebakaran semakin mengancam lingkungan sekitar.
Upaya Penanggulangan Karhutla oleh Pemerintah Daerah
Guna menangani masalah karhutla, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan bersama dengan pemerintah kabupaten telah meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan. Salah satu langkah yang diambil adalah menetapkan status siaga untuk kejadian karhutla.
Selain status siaga, patroli di daerah rawan kebakaran juga ditingkatkan. Pemerintah berfokus pada deteksi dini titik panas agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.
“Kami berharap dengan meningkatkan patroli dan pengawasan, kejadian kebakaran bisa diminimalisir, meskipun aktivitas manusia masih menjadi penyebab utama,” ungkap Sudirman. Upaya ini diharapkan akan berdampak positif dalam pengelolaan sumber daya alam di wilayah tersebut.







