Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad memberikan pengakuan atas berbagai langkah strategis yang diambil oleh Bank Indonesia (BI) dalam upaya untuk menguatkan nilai tukar rupiah. Penandatanganan Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) antara BI dan People’s Bank of China (PBOC) pada bulan Juni 2026 di Shanghai bertujuan menyederhanakan transaksi keuangan antara kedua negara.
Dengan adanya kesepakatan ini, transaksi antara Indonesia, Tiongkok, dan Hong Kong dapat dilakukan dengan menggunakan rupiah dan renminbi tanpa harus bergantung pada dolar AS. Dasco menekankan pentingnya langkah ini dalam menciptakan ketahanan ekonomi nasional, terutama di tengah ketidakpastian global.
Selain itu, MoU yang berkaitan dengan Local Currency Transaction (LCT) juga diperluas untuk mencakup Hong Kong. Penandatanganan ini melibatkan Chief Executive Hong Kong Monetary Authority, Eddie Yue, menandakan kerja sama yang semakin erat antara kedua belah pihak.
Memperkuat Hubungan Ekonomi Melalui Kerja Sama Keuangan
Kedua lembaga keuangan tersebut sepakat untuk mengimplementasikan QRIS lintas batas antara Indonesia dan China. Ini berarti pengusaha dari kedua negara dapat melakukan transaksi secara langsung tanpa harus mempertimbangkan konversi mata uang yang kompleks.
Dasco menilai sistem yang melibatkan 191 penyedia layanan di China dan 24 di Indonesia ini merupakan langkah inovatif. Hal ini diharapkan dapat mempercepat aliran perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Tiongkok.
Dengan adanya QRIS, proses pembayaran akan lebih efisien dan ramah pengguna. Ini bisa menjadi solusi ideal di tengah tantangan yang sering dihadapi dalam transaksi lintas negara.
Strategi Mengurangi Ketergantungan pada Dolar AS
Kepala BI, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa kesepakatan ini adalah bagian dari rencana strategis untuk mengurangi kebutuhan akan dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional. Diharapkan, pada tahun 2025, nilai perdagangan antara Indonesia dan China akan mencapai USD 154,5 miliar.
Dasco mengungkapkan keyakinannya bahwa langkah ini merupakan upaya serius untuk menjadikan rupiah lebih menonjol dalam perdagangan global. Penyederhanaan transaksi ini pun akan meningkatkan daya saing produk-produk Indonesia di pasar luar negeri.
Dia juga mengingatkan bahwa ketergantungan pada mata uang asing selama ini cukup membebani perekonomian. Oleh karena itu, upaya pengalihan penggunaan mata uang lokal diharapkan dapat menjadi solusi yang berkelanjutan.
Dampak Jangka Panjang terhadap Ekonomi Indonesia
Langkah-langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan hubungan ekonomi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi stabilitas nilai tukar rupiah. Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memantau dan mendukung langkah-langkah ini demi kelangsungan ekonomi nasional.
Penting untuk dicatat bahwa kesepakatan ini akan menghasilkan banyak manfaat jangka panjang. Selain mempermudah transaksi, langkah ini juga dapat membuka peluang investasi baru yang lebih luas.
Dengan sistem yang lebih terintegrasi, pelaku usaha di Indonesia dapat lebih mudah mengakses pasar internasional. Hal ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi serta menciptakan lapangan pekerjaan baru di dalam negeri.







