Muhammadiyah telah menetapkan bahwa awal Ramadhan 1447 Hijriah akan jatuh pada 18 Februari 2026. Penetapan ini bisa berbeda dari yang ditentukan oleh pemerintah, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai metode perhitungan yang digunakan oleh Muhammadiyah dalam menentukan awal bulan suci ini.
Metode yang sering digunakan oleh Muhammadiyah adalah hisab, yakni perhitungan astronomis yang fokus pada kondisi hilal atau bulan baru. Ini adalah salah satu alasan mengapa tanggal awal Ramadhan dan Idulfitri seringkali tidak sesuai dengan ketetapan pemerintah dan organisasi lainnya.
Cara Penetapan Awal Bulan dalam Muhammadiyah
Penetapan awal Ramadhan oleh Muhammadiyah berlandaskan pada hisab hakiki wujudul hilal yang ditetapkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid organisasi tersebut. Metode ini melibatkan perhitungan yang cermat terhadap pergerakan Bulan dan Matahari di langit untuk menentukan kapan bulan baru dimulai.
Hisab hakiki berarti mengacu pada gerakan nyata Bulan, bukan hanya berdasarkan teori. Ini mengharuskan pengamatan faktual terhadap kondisi Bulan untuk memastikan kapan bulan kamariah, yang didasari perhitungan astronomi yang akurat, dimulai ataupun diakhiri.
Muhammadiyah juga menggunakan kriteria wujudul hilal, yang menyaratkan bahwa Matahari harus terbenam sebelum Bulan. Ini bisa jadi hanya selisih satu menit, tetapi sangat menentukan dalam perhitungan. Dengan cara ini, Muhammadiyah mengerucutkan ketetapan awal Ramadhan serta Syawal secara lebih akurat.
Prinsip Hisab Hakiki Wujudul Hilal dalam Muhammadiyah
Menurut pedoman Hisab Muhammadiyah, bulan kamariah akan mulai pada hari ke-29 ketika tiga syarat terpenuhi. Syarat pertama adalah terjadinya ijtimak atau konjungsi Bulan dan Matahari sebelum Matahari terbenam.
Syarat kedua yaitu ijtimak harus terjadi sebelum Matahari terbenam, dan ketiga, Bulan harus berada di atas ufuk saat Matahari terbenam. Jika salah satu syarat ini tidak terpenuhi, bulan akan dihitung lebih lanjut hingga hari ke-30.
Penting untuk dicatat bahwa, bagi Muhammadiyah, munculnya bulan baru ditentukan oleh posisi Bulan di langit saat Matahari terbenam. Jika Bulan berada di atas ufuk, maka bulan baru dimulai. Jika tidak, hari-hari tersebut masih dihitung sebagai bagian dari bulan yang berjalan.
Kalender Global dan Penjabarannya dalam Ramadhan
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid, Rahmadi Wibowo, menerangkan bahwa penentuan awal Ramadhan 1447 Hijriah merujuk pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Pada dasarnya, KHGT dibangun atas prinsip bahwa seluruh dunia harus memiliki hari dan tanggal yang sama.
Menurutnya, prinsip ini hanya bisa diterapkan jika Bumi dipandang sebagai satu kesatuan tanpa pembagian zona waktu yang regional. Jika Bumi dikelompokkan dalam zona-zona penanggalan, hal ini akan mengakibatkan ketidaksesuaian hari dan tanggal di berbagai belahan dunia.
Dalam penentuan tanggal Ramadhan, KHGT menggunakan dua parameter astronomi. Pertama, elongasi atau jarak sudut Bulan-Matahari minimal harus 8 derajat, dan kedua, ketinggian hilal saat Matahari terbenam harus minimal 5 derajat. Ini adalah kriteria astronomis yang harus dipenuhi untuk memastikan bulan baru dapat dimulai secara serentak.
Kondisi Khusus yang Mempengaruhi Penetapan Bulan Baru
Apabila kriteria tersebut tidak terpenuhi sebelum pukul 24.00 GMT, terdapat parameter tambahan yang juga harus diperhatikan. Sebagai contoh, ijtimak sebaiknya terjadi di Selandia Baru sebelum fajar, karena daerah ini adalah yang pertama kali menyambut hari baru di Bumi.
Parameter lain yang perlu dicatat adalah bahwa saat yang bersamaan, kriteria ketinggian hilal dan elongasi harus terpenuhi di daratan benua Amerika sebagai patokan akhir dari siklus 24 jam global. Hal ini menjadi penentu apakah bulan baru dapat dimulai pada hari tersebut.
Dengan menerapkan metode ini, Muhammadiyah berharap dapat menghadirkan keselarasan dalam penentuan waktu ibadah umat Islam, termasuk awal dan akhir bulan Ramadhan yang sesuai dengan ketetapan yang akurat berdasarkan perhitungan astronomis yang efisien dan terkini.




