Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa Monsun Asia masih aktif hingga sepekan ke depan. Selain itu, fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) diprediksi akan berpengaruh besar terhadap hujan di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut BMKG, dalam periode 13-19 Februari, aktifnya Monsun Asia akan memberi suplai udara dan meningkatkan perpindahan uap air yang signifikan menuju Indonesia. Hal ini menandakan bahwa curah hujan berpotensi meningkat di sejumlah lokasi.
BMKG menambahkan bahwa kondisi atmosfer dipengaruhi oleh beberapa fenomena internasional, yang turut berperan dalam pembentukan cuaca di tanah air. MJO yang aktif diperkirakan bakal membawa dampak pada sejumlah daerah, memicu peningkatan hujan.
Pada tingkat global, nilai SOI dan Niño 3.4 menunjukkan adanya kondisi La Niña yang cukup lemah. Ini merupakan sinyal bahwa pembentukan awan hujan di wilayah timur Indonesia mungkin akan semakin meningkat, sejalan dengan situasi MJO yang juga aktif di wilayah tersebut.
Pengaruh Fenomena Global Terhadap Cuaca Indonesia
Selain fenomena la Niña, BMKG mencatat bahwa aktivitas MJO di Samudra Hindia barat Sumatera dan perairan utara Aceh akan memperkuat pertumbuhan awan hujan. Daerah-daerah ini, seperti Sumatra Utara dan Sumatera Barat, memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami hujan lebat dalam waktu dekat.
Wilayah Kalimantan dan Sulawesi juga diproyeksikan akan merasakan pengaruh dari gelombang Rossby dan Kelvin, yang berpotensi menambah kelembapan udara. Ini semua menunjukkan bahwa atmosfer di Indonesia sedang dalam fase yang sangat aktif.
Dalam laporan cuaca mingguan, BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat. Kenaikan curah hujan yang signifikan dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan longsor. Oleh karena itu, perhatian khusus perlu diberikan pada daerah yang lebih rentan.
Prediksi Curah Hujan dan Area Risiko
BMKG juga mengidentifikasi sejumlah daerah yang berpotensi mengalami hujan lebat antara 13 hingga 19 Februari. Beberapa wilayah seperti Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Sumatera bagai daerah yang perlu mendapat perhatian lebih.
Untuk periode 13-15 Februari, hujan lebat diperkirakan akan melanda Kep. Bangka Belitung, Banten, dan Kalimantan Timur. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya bencana di daerah-daerah dengan infrastruktur yang mungkin tidak siap untuk menghadapi curah hujan ekstrem.
Selain itu, pada 16-19 Februari, wilayah Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat akan merasakan intensitas hujan yang tinggi. Masyarakat diharapkan untuk tetap waspada dan mengikuti perkembangan informasi cuaca terkini.
Pentingnya Kewaspadaan Dalam Menghadapi Cuaca Ekstrem
BMKG merekomendasikan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesadaran akan potensi cuaca ekstrem. Kelembapan udara yang tinggi dapat berkontribusi terhadap hujan lebat disertai petir dan angin kencang.
Dalam kaitan ini, petugas pemerintah dan relawan di lapangan diimbau untuk bersiap siaga. Upaya mitigasi dan penanganan dini sangat penting demi mengurangi dampak dari potensi bencana yang mungkin terjadi akibat perubahan cuaca ini.
Dengan memperhatikan prediksi cuaca yang telah disampaikan, masyarakat harus proaktif melakukan langkah-langkah preventif. Misalnya, memeriksa drainase di sekitar rumah dan menyiapkan rencana evakuasi jika dibutuhkan.
Secara keseluruhan, situasi cuaca di Indonesia saat ini memerlukan perhatian serius dari semua pihak. Pengetahuan yang memadai mengenai fenomena cuaca serta kesiapan dalam menghadapi situasi darurat adalah bagian dari langkah strategis untuk menanggulangi bencana. Kita semua memiliki peran untuk menciptakan lingkungan yang aman.




