Kejadian hiu tutul terdampar di perairan Indonesia kembali menarik perhatian publik. Dalam beberapa waktu terakhir, seekor hiu tutul dengan panjang sekitar 4 meter dan berat 1 ton ditemukan mati di Pantai Pagak Purworejo, Jawa Tengah, pada tanggal 7 Desember. Fenomena ini menunjukkan tren yang semakin mengkhawatirkan terkait populasi hiu tutul di negeri ini.

Selain kasus di Purworejo, banyak laporan tentang hiu tutul terdampar lainnya yang mencuat sepanjang tahun 2025. Dari Muara Mati di Bekasi hingga Pantai Bunton di Cilacap, hiu tutul terus ditemukan dalam keadaan tak berdaya di berbagai lokasi pantai di Indonesia.

Dengan tingginya frekuensi kejadian ini, penting bagi masyarakat dan pemerintah untuk memahami penyebab dan akibatnya. Mengapa hiu tutul bisa terdampar dan apa yang dapat dilakukan untuk melindungi spesies yang terancam punah ini?

Studi terbaru bertajuk ‘Spatio-temporal patterns, trends, and oceanographic drivers of whale shark strandings in Indonesia’ memberikan wawasan baru tentang fenomena ini. Diterbitkan dalam Scientific Reports, studi tersebut mencatat peningkatan jumlah hiu tutul terdampar di pesisir Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Para peneliti menjelaskan bahwa banyak kasus hiu tutul yang awalnya tampak seperti berada dalam keadaan normal, padahal sebenarnya mereka tidak bisa kembali ke kedalaman laut. Dalam banyak situasi, hiu yang lemah justru ditarik ke pantai oleh warga desa yang berusaha menolong, tetapi tindakan ini sering berakibat fatal.

Fakta Menarik Tentang Hiu Tutul di Indonesia

Sejak 2007 hingga 2025, tercatat ada 115 kasus hiu tutul terdampar di Indonesia. Kasus-kasus ini melibatkan 127 individu yang tersebar di 23 dari 38 provinsi di seluruh Indonesia. Pesisir selatan Jawa menjadi lokasi yang paling banyak melaporkan kejadian terdamparnya hiu tutul.

Lebih dari 70 persen dari hiu yang terdampar merupakan individu juvenile berukuran antara 4 hingga 7 meter. Kelompok umur ini sering memanfaatkan perairan dangkal Indonesia sebagai tempat mencari makan, yang membuat mereka lebih rentan terhadap terdampar.

Kematangan seksual hiu paus baru tercapai ketika panjang tubuh mereka mencapai 7 hingga 9 meter. Oleh karena itu, kehilangan individu juvenile sangat berbahaya bagi kesinambungan hidup populasi hiu tutul di Indonesia.

Penelitian menunjukkan bahwa hiu tutul cenderung terdampar di waktu-waktu tertentu, khususnya selama musim upwelling. Peristiwa ini memicu produktivitas laut yang tinggi, sehingga membuat hiu tertarik untuk mendekati pantai dan mencari makan.

Pada saat yang sama, arus laut yang kuat dan perubahan mendadak suhu air juga menjadi faktor yang mengganggu kemampuan navigasi hiu. Kenaikan suhu laut yang sangat tajam bisa mengakibatkan hiu tutul kehilangan arah dan terjebak di perairan dangkal.

Penyebab Hiu Tutul Terdampar di Pantai Indonesia

Penelitian mendalam mengungkap faktor-faktor yang menjadi penyebab terdamparnya hiu tutul. Salah satu yang paling signifikan adalah fenomena upwelling yang terjadi di pesisir selatan Jawa pada periode Juni hingga November.

Selama periode ini, air dingin yang kaya akan nutrisi naik ke permukaan. Fenomena ini menyebabkan terjadinya ledakan plankton, ikan kecil, dan krill, yang menjadi makanan favorit hiu tutul.

Selain itu, gelombang tinggi akibat arus upwelling juga bisa mendorong hiu lebih dekat ke pantai. Penurunan drastis suhu laut juga berpotensi membingungkan hiu dalam navigasi, menyebabkan mereka terjebak di perairan dangkal.

Meski faktor alam menjadi penyebab utama, aktivitas manusia pun harus diperhatikan. Interaksi manusia dengan lingkungan laut, seperti penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan, dapat memengaruhi perilaku dan kesehatan hiu tutul.

Penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, seperti jaring hanyut, juga telah dilaporkan menambah risiko terdamparnya hiu. Kasus yang terjadi di Bekasi menunjukkan bahwa stres dan kelelahan akibat terjebak dapat mengakibatkan kematian hiu yang terdampar.

Dampak Terhadap Ekosistem Laut dan Pelestarian Hiu Tutul

Hiu tutul memiliki peran penting dalam ekosistem laut sebagai predator puncak. Kehilangan individu, terutama dari kelompok juvenile, bisa berdampak buruk terhadap ekosistem laut secara keseluruhan.

Kematian hiu tutul dapat mengganggu keseimbangan rantai makanan yang ada. Pengurangan jumlah hiu tutul juga dapat menyebabkan ledakan populasi prey (makanan) mereka, yang pada gilirannya berdampak negatif untuk kesehatan laut.

Oleh karena itu, pelestarian hiu tutul harus menjadi prioritas. Masyarakat perlu dilibatkan dalam upaya penyelamatan spesies ini, seperti melalui pendidikan dan kesadaran akan pentingnya menjaga keberlangsungan hidup hiu.

Penelitian lebih lanjut terkait kesehatan dan kondisi perairan pesisir juga sangat penting. Mengetahui dampak lingkungan terhadap kesehatan hiu tutul bisa menjadi langkah awal untuk mengurangi risiko terdampar di masa depan.

Melalui kerjasama antara pemerintah, peneliti, dan masyarakat, diharapkan populasi hiu tutul dapat terjaga, sehingga memperkuat keanekaragaman hayati dan kesehatan ekosistem laut di Indonesia.

Iklan