Perseteruan antara seorang dokter bernama Doktif dan seorang praktisi kesehatan, Richard Lee, semakin memanas. Doktif, yang dikenal sebagai Detektif Kesehatan, menyatakan kesiapannya untuk mengungkap semua dugaan pelanggaran yang dilakukan Richard di hadapan majelis hakim dalam waktu dekat.
Dalam sebuah konferensi pers yang diselenggarakan di Jakarta Selatan, Doktif mengungkapkan tekadnya untuk membongkar seluruh fakta terkait Richard Lee setelah penetapan status tersangka terhadap Richard pada 15 Desember 2025, berdasarkan laporan yang dia ajukan.
Doktif menekankan bahwa dia tidak takut dan bersiap untuk menghadapi proses hukum. Ia menyerukan agar semua pihak melihat fakta yang ada, bukan sekadar informasi yang beredar di media sosial.
Richard Lee sendiri telah ditetapkan sebagai tersangka akibat dugaan pelanggaran dalam bidang kesehatan. Laporan yang diajukan Doktif terhadapnya terdaftar pada Desember 2024, dan penyelidikan terhadap Richard Lee berlangsung intensif.
Melihat Kembali Perseteruan antara Doktif dan Richard Lee
Perseteruan ini memuncak ketika Doktif mengklaim bahwa penemuan yang dibuatnya saat mengunjungi Klinik Athena milik Richard berada di luar dugaan. Ia datang ke klinik tersebut tanpa menyamar, dan mengungkapkan kekhawatirannya terhadap produk yang ditawarkan.
Dari kunjungannya, Doktif menemukan bahwa produk Mini Stem Cell yang dijual tidak sesuai dengan klaim yang ada. Ia menyebutkan bahwa produk tersebut sebenarnya bukanlah stem cell murni, melainkan secretome, yang sangat berbeda dari apa yang dijanjikan.
Tidak hanya itu, Doktif juga menyelidiki produk lain yang ditawarkan oleh klinik tersebut, termasuk White Tomato dan berbagai minuman kesehatan. Masing-masing dari produk itu diduga tidak sesuai dengan klaim yang dipasarkan, misalnya, tidak mengandung bahan yang dijanjikan.
Dalam keterangannya, Doktif menambahkan bahwa selama dua dekade berkarir di bidang kecantikan, ia sangat paham mengenai harga dan kualitas produk kecantikan yang sebenarnya. Oleh karena itu, ia merasa perlu menyampaikan informasi ini kepada publik.
Regulasi dan Izin Praktik yang Memicu Kontroversi
Salah satu aspek yang disoroti oleh Doktif adalah ketidakpatuhan Klinik Athena terhadap regulasi Kementerian Kesehatan. Ia menemukan bahwa klinik tidak memasang papan Surat Izin Praktik (SIP) yang diwajibkan di area publik, yang dapat menimbulkan kebingungan bagi konsumen.
Doktif juga mencatat bahwa pihak klinik tidak memiliki alasan yang kuat untuk tidak mematuhi regulasi ini. Ia berharap pihak berwenang dapat mengambil langkah yang tepat dalam menanggapi pelanggaran ini.
Selain itu, dokumen produk yang terdapat di klinik tersebut juga menjadi bagian dari sorotan Doktif. Ia mengungkapkan indikasi penggunaan logo halal yang tidak resmi, serta adanya nomor notifikasi yang sama untuk beberapa produk berbeda.
Dari hasil temuannya, Doktif beranggapan bahwa ada sesuatu yang mencurigakan mengenai izin edar produk yang ditawarkan oleh Richard. Ini menambah panjang daftar dugaan pelanggaran yang harus dipertanggungjawabkan.
Kontroversi di Balik Status Gelar Akademik Richard Lee
Selain aspek medis, Doktif juga membahas mengenai kredibilitas akademik Richard Lee. Ia mempertanyakan tentang gelar PhD yang didapat Richard dalam waktu yang sangat singkat, yang dinilai tidak masuk akal jika dibandingkan dengan durasi pendidikan doktoral yang umumnya diambil.
Doktif menganggap bahwa gelar tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan dengan baik dalam konteks profesional. Ia juga menyoroti bahwa pada saat proses penyidikan, Richard tidak menggunakan gelar akademiknya, yang bisa jadi menandakan adanya ketidakpastian pada kredibilitasnya.
Dalam konteks ini, Doktif menyerukan pentingnya transparansi dan kejujuran dalam dunia kesehatan. Ia berharap masyarakat mengambil pelajaran dari kasus ini untuk lebih berhati-hati dalam memilih layanan kesehatan dan produk kecantikan.
Melihat semua perkara ini, Doktif berharap agar pemerintah bisa bertindak adil dalam menangani masalah ini. Ia meminta agar setiap orang bertanggung jawab atas tindakannya dan bahwa tidak ada yang diistimewakan hanya karena status atau kekayaan.




