Wuthering Heights (2026) adalah film terbaru yang mengadaptasi novel klasik karya Emily Brontë dengan nama yang sama. Disutradarai oleh Emerald Fennell, film ini menghadirkan Margot Robbie dan Jacob Elordi sebagai pemeran utama, menampilkan kisah cinta yang rumit dan penuh emosi antara Catherine dan Heathcliff.
Film ini mendapatkan respons campur aduk dari para kritikus. Meskipun memiliki rating 64 persen di Rotten Tomatoes berdasarkan 174 ulasan, banyak yang merasa bahwa film ini tidak berhasil menangkap kedalaman emosional yang menjadi inti dari novel aslinya.
Beberapa kritikus mengungkapkan rasa kekecewaan, menyatakan bahwa interpretasi Fennell terhadap karya Brontë terasa dangkal. Banyak yang menganggap bahwa perubahan yang dibuat dalam adaptasi ini justru mengurangi kekuatan cerita yang sebenarnya.
Penilaian Krisis Terhadap Adaptasi Wuthering Heights
Pada umumnya, para kritikus setuju bahwa film ini tidak mampu menyampaikan nuansa gelap dan dramatis dari novel yang diadaptasi. Clarisse Loughrey dari Independent UK memberikan ulasan tajam, menilai film ini seolah kehilangan semua fokus pada hubungan emosional yang menjadi daya tarik utama cerita tersebut.
Menurutnya, “Film ini hanya menggunakan kedok interpretasi untuk menguras habis gairah dan kekerasan emosional dalam novel tersebut.” Pendapat ini menunjukkan betapa pentingnya penjagaan terhadap kekayaan materi sumber ketika melakukan adaptasi.
William Bibbiani dari The Wrap menekankan bahwa pengurangan cerita menjadi sangat sederhana justru menghilangkan kompleksitas yang menjadi karakteristik dari hubungan antara Catherine dan Heathcliff. Hal ini, menurutnya, menciptakan kesan bahwa film ini hanya sebuah romansa yang berkisar pada estetika tanpa menggali makna yang lebih dalam.
Melihat Bias dan Interpretasi Dalam Karya Fennell
Walaupun banyak kritik negatif, ada juga beberapa ulasan yang mencoba melihat dari sudut pandang yang lebih positif. Beberapa kritikus berpendapat bahwa film ini dapat dinikmati sebagai karya yang berdiri sendiri, terlepas dari bahwa ini adalah adaptasi dari novel Brontë.
Peter Howell dari Toronto Star mencatat bahwa film ini memiliki daya tarik tersendiri dan menyarankan penonton untuk menerimanya sebagai film cinta sederhana yang bisa dinikmati tanpa ekspektasi tinggi. Ia mencirikan film ini sebagai “kisah cinta yang sangat murahan” yang memiliki kesenangan unik tersendiri.
Caryn James dari BBC mencatat bahwa, meskipun film ini tidak setia pada novel asal, cara Fennell menunjukkan karakter yang merusak diri ketika keinginan tidak terpenuhi adalah salah satu aspek positif dari film ini. Untuk James, ini menunjukkan keahlian Fennell dalam menciptakan narasi yang menarik.
Aspek Estetika dan Penanganan Cerita Dalam Wuthering Heights
Satu hal yang menjadi sorotan dalam film ini adalah penggambaran visual dan suasana yang mendukung narasi. Peter Debruge dari Variety menyatakan bahwa Fennell berhasil menangkap dinamika fisik dan permainan kekuasaan di antara karakter utama, yang dianggap jarang dieksplorasi secara mendalam dalam film sebelumnya.
Debruge juga menyoroti bahwa pengurangan bagian akhir novel untuk memfokuskan pada hasrat yang tidak terungkap mungkin merupakan sebuah langkah berani, meskipun patut mendapatkan perhatian kritikus sastra. Ini menunjukkan bahwa film ini berupaya untuk menawarkan perspektif baru.
Dengan berbagai pendapat yang ada, jelas bahwa film Wuthering Heights memicu diskusi yang hangat di kalangan penonton dan kritikus. Faktor penilaian ini sangat beragam bergantung pada ekspektasi serta pandangan masing-masing individu terhadap karya sastra.




