Ammar Zoni telah kembali ke Lapas Nusakambangan setelah menjalani proses hukum terkait kasus peredaran narkotika. Ia dijatuhi hukuman 7 tahun penjara dan denda sebesar Rp 1 miliar, yang tentunya menjadi perjalanan hidup yang sangat berat bagi dirinya dan keluarganya.
Adik Ammar, Aditya Zoni, mengungkapkan betapa berat beban yang harus ditanggung oleh kakaknya selama di dalam lapas. Pertemuan mereka baru-baru ini mengungkapkan banyak hal yang tidak mudah bagi Ammar untuk diceritakan.
Dalam kesempatan itu, Aditya menceritakan tentang bagaimana kondisi yang dihadapi oleh Ammar di dalam penjara. Menurutnya, Ammar mengalami berbagai kesulitan, terutama terkait dengan tempat tidur dan kesehatan mentalnya.
Kondisi Kehidupan Ammar di Lapas yang Sangat Menyulitkan
Selama menjalani proses hukum, Ammar terjebak dalam situasi yang tidak nyaman. Ia mengungkapkan bahwa kondisi tidur di dalam lapas sangat menyiksa, bahkan bisa mengancam kesehatannya.
Ammar harus tidur dalam posisi yang tidak layak, yang membuatnya merasa terancam mengalami kelumpuhan jika terus berlanjut. Hal ini menciptakan tekanan mental yang cukup berat bagi Ammar.
Meskipun berbagai masalah yang dialaminya, Ammar tetap berusaha untuk tetap optimis menghadapi semua cobaan ini. Namun, kenyataan di lapas yang penuh dengan berbagai keterbatasan benar-benar mendorongnya ke titik terjauh dari zona nyaman.
Dampak Psikologis yang Dirasakan Ammar Selama di Penjara
Tekanan psikologis menjadi salah satu isu utama yang dihadapi oleh Ammar selama masa penahanan. Terutama saat ia harus berjuang sendirian dalam menghadapi tantangan dan ketidakpastian di dalam lapas.
Ammar merasa terasing dan kesepian, nilai positif dari dukungan keluarga menjadi sangat penting di tengah keadaan yang sulit ini. Aditya menceritakan bahwa Ammar sering kali merasa terabaikan dan terjepit dalam situasi yang tak memberikan jaminan apapun.
Memang sangat jelas bahwa dukungan mental dan emosional sangat diperlukan dalam situasi seperti ini. Ammar berharap bisa memiliki dukungan yang lebih kuat dari keluarganya untuk menjalani hari-harinya di lapas dengan lebih baik.
Rendahnya Akses ke Udara Segar Menambah Beban Psikologis
Salah satu keluhan Ammar yang menyentuh adalah minimnya kesempatan untuk mendapatkan udara segar. Ia menjelaskan bahwa kesempatan untuk keluar lapas dan menikmati sinar matahari sangat terbatas.
Setiap minggu, Ammar hanya diberi kesempatan dua kali untuk melihat matahari dan itu sangat berdampak pada kesehatan mentalnya. TerKurung lama di dalam ruangan membuatnya merasa tertekan dan terisolasi.
Dampak dari kurangnya paparan sinar matahari bukan hanya terkait dengan kesehatan fisik, melainkan juga kesehatan jiwa. Hal ini sangat berkontribusi pada rasa tertekan yang ia rasakan selama menjalani masa hukuman.







