Para ilmuwan mengonfirmasi bahwa 2025 akan menjadi tahun terpanas ketiga dalam sejarah pencatatan, terpicu oleh peningkatan polusi bahan bakar fosil yang memicu suhu global mencapai level yang ekstrim. Laporan terbaru dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menunjukkan tren tiga tahun berturut-turut dengan suhu rata-rata permukaan udara yang mencatat angka “luar biasa” setinggi 1,48 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri.

Menurut pemantauan yang dilakukan oleh Badan Iklim Copernicus Uni Eropa, laju pemanasan saat ini berisiko melampaui batas 1,5 derajat Celsius yang didasarkan pada Perjanjian Paris. Hal ini terjadi lebih dari 10 tahun lebih awal daripada perkiraan yang telah dibahas saat para pemimpin dunia menandatangani perjanjian tersebut pada tahun 2015.

Direktur layanan perubahan iklim Copernicus, Carlo Buontempo, menegaskan bahwa kita pasti akan melewati batas tersebut. “Pilihan yang kita miliki sekarang adalah bagaimana kita mengelola kelebihan yang tak terhindarkan beserta konsekuensinya,” ujarnya.

Pemanasan Global dan Data Terkini

Delapan dataset yang dipublikasikan terbaru didasarkan pada miliaran pengukuran cuaca yang dikumpulkan oleh berbagai sumber, termasuk satelit dan stasiun cuaca. Beberapa organisasi yang memantau iklim secara terpisah memberikan hasil yang sedikit berbeda, namun tetap menunjukkan tren yang sama.

Analisis yang dilakukan oleh WMO menemukan bahwa 2025 lebih panas 1,44 derajat Celsius dibandingkan periode pra-industri. Laporan ini menggarisbawahi dampak dari pemanasan yang didorong oleh kebakaran hutan, penggundulan hutan, dan pembakaran bahan bakar fosil yang intensif.

Saat ini, enam dari delapan dataset tersebut mengindikasikan bahwa 2025 adalah tahun terpanas ketiga dalam catatan, dengan dua lainnya menempatkannya pada posisi kedua. Dengan gelombang panas yang melanda hampir semua penjuru dunia, dampaknya menjadi semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari manusia.

Dampak Pemanasan pada Lingkungan dan Manusia

Dalam laporan tersebut, juga ditemukan bahwa pola cuaca alami, seperti El Niño, berkontribusi pada kenaikan suhu global. Tim Osborn, direktur Unit Penelitian Iklim Universitas East Anglia, mencatat bahwa efek alami ini akan menurun pada tahun 2025.

Suhu yang tinggi menyebabkan berbagai masalah bagi lingkungan, termasuk penurunan tutupan es laut di kutub. Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa sebagian besar daratan Bumi mengalami lebih banyak hari dengan “stres panas” yang tinggi.

Berkelanjutan, keadaan ini memengaruhi lebih dari 8 persen populasi dunia yang tinggal di daerah dengan suhu rata-rata tertinggi sepanjang sejarah. Perbaikan yang diperlukan dalam cara kita menghadapi perubahan iklim menjadi semakin mendesak.

Krisis Iklim yang Tidak Terhindarkan

Bill McGuire, profesor emeritus di University College London, menyatakan bahwa temuan ini adalah “berita suram namun tidak mengejutkan.” Ia menambahkan bahwa krisis iklim telah menjadi kenyataan yang tak terhindarkan, dengan sedikitnya upaya yang diambil untuk mengatasinya.

Berbagai anomali panas yang terjadi pada tahun 2025 memberikan gambaran yang lebih luas tentang dampak dari aktivitas manusia terhadap iklim. Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional melaporkan bahwa hal ini terlihat paling jelas di Eropa, Arktik, dan Asia Barat.

Meski terdapat lonjakan energi terbarukan, emisi global terus meningkat, menunjukkan bahwa pengendalian perubahan iklim masih dapat dicapai dengan usaha lebih besar dari semua pihak. Data yang dikumpulkan selama ini harus memacu langkah konkret untuk menanggulangi isu ini.

Iklan