Korea Selatan saat ini bersiap merilis lebih banyak film panjang yang sepenuhnya dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) di bioskop pada bulan ini. Salah satu film yang paling dinanti adalah Raphael, yang dijadwalkan tayang pada 25 November di layar lebar, menawarkan pengalaman sinematik baru kepada penggemar film.
Berlatar di dunia pasca-apokaliptik, film ini mengikuti perjalanan seorang android bernama Alexey, yang berwajah seperti diktator dan perlahan menemukan sisi kemanusiaan ketika bertemu dengan seorang anak tak terdaftar serta pengantin manusia terakhir. Cerita ini tidak hanya menyuguhkan aksi, tetapi juga menyentuh aspek kemanusiaan yang mendalam.
Laporan dari Korea Times mengungkapkan bahwa Raphael merupakan hasil kolaborasi antara Mateo AI Studio dan MBC C&I AI Content Lab, dengan arahan dari tiga sutradara berbakat, Yang Ik-june, Moon Shin-woo, dan Jung Joo-won. Proses penggarapan film ini unik karena seluruh karakter, latar belakang, dan adegan-adegan besar diciptakan tanpa proses syuting fisik sama sekali.
Tim produksi menghabiskan waktu hingga 14 bulan di meja editing untuk memastikan konsistensi visual dan kelincahan gerakan semua karakter. Dengan durasi 138 menit, film ini jelas merupakan hasil kerja keras yang luar biasa dalam menciptakan film berbasis AI yang mampu bersaing dalam industri film global.
Film AI Pertama yang Ditampilkan di Festival Bergengsi
Sebelum tayang secara reguler, Raphael sempat menjadi film pembuka di Busan International AI Film Festival yang kedua tahun lalu, serta ditampilkan di Cannes Film Market pada bulan Mei lalu. Ini menunjukkan bahwa film berbasis AI mulai mendapatkan pengakuan dan ruang dalam industri film yang kompetitif.
Langkah Korea Selatan dalam menghadirkan film AI ini mengikuti sukses yang dicapai Steelay, film aksi berdurasi 90 menit yang dirilis sebelumnya, yang juga sepenuhnya bergantung pada visual buatan AI. Ini menunjukkan bahwa tren film berbasis teknologi semacam ini bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru lagi dalam industri perfilman.
Keberadaan teknologi ini turut mendorong rasa penasaran seniman dan sineas terkenal seperti Yeon Sang-ho, yang dikenal lewat film Train to Busan. Ia baru-baru ini bereksperimen dengan AI generatif untuk menyelesaikan serial pendek berjudul Paradise Lost Universe dalam waktu hanya dua minggu.
Yeon mengakui bahwa kualitas yang dihasilkan oleh AI bisa sangat memuaskan dan bahwa karakter-karakter yang dihasilkan setidaknya dapat memberikan ilusi yang memadai. Namun, ia tetap berpendapat bahwa AI tidak dapat sepenuhnya menggantikan kehadiran aktor manusia dalam film.
“Roh dalam setiap film benar-benar tergantung pada karakter yang diperankan oleh aktor manusia yang membawa keunikan dan aura tersendiri,” ujarnya. Menurutnya, penonton tidak hanya mencari realitas, tetapi juga pengalaman emosional yang dirasakan melalui akting manusia.
Perkembangan dan Tantangan Film AI di Pertunjukan Dunia
Pergerakan besar-besaran dalam penggunaan AI di film ini memaksa berbagai festival film untuk mulai merangkul teknologi baru ini. Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN) pada bulan Juli lalu bahkan memperluas kategori kompetisi mereka untuk mengakomodasi film panjang yang menggunakan AI.
Sutradara terkenal asal China, Jia Zhangke, juga menjelaskan urgensi untuk memahami dan memanfaatkan AI dalam industri film. Selama seminar di Busan International Film Festival, ia mengungkapkan bahwa setelah menyutradarai tiga film pendek berbasis AI dalam dua tahun terakhir, ia menyadari potensi luar biasa yang tersedia.
“Pengembangan teknologi ini adalah hal yang tidak bisa dihindari, dan kita harus mengambil langkah proaktif untuk menciptakan karya seni yang memahami bahasan ini,” tambahnya. Ia percaya AI dapat memberi bentuk pada visual yang sebelumnya tidak dapat diwujudkan dalam syuting langsung.
Dalam pandangannya, kolaborasi antara emosi manusia dan kemampuan AI dalam proses kreatif adalah kunci untuk menciptakan film yang dapat menggugah perasaan. Namun, masih ada kekhawatiran tentang di mana posisi aktor manusia di dunia yang semakin dikuasai oleh kecerdasan buatan ini.
Respon Publik Terhadap Film Berbasis AI
Bahkan meski ada upaya besar untuk mengembangkan film berbasis AI, tidak semua masyarakat menyambut baik perubahan ini. Film pertama yang sepenuhnya dibuat dengan AI di China, berjudul Sanxingdui: Future Past, mengalami kegagalan di box office dan dinyatakan flop karena dianggap tidak memenuhi standar kualitas yang diharapkan.
Banyak penonton merasa enggan untuk membayar tiket masuk jika kualitas film yang ditawarkan setara dengan video yang dapat diakses secara gratis di media sosial. Hal ini menciptakan keraguan terhadap masa depan film AI di kalangan pencinta film dan masyarakat umum.
Iris Yang, salah satu penonton, dengan tegas mengungkapkan bahwa ia hanya akan bersedia membayar tiket jika film tersebut memiliki visual yang sebanding dengan pengalaman menonton film blockbuster seperti Avatar. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Lilian Gong, yang merasa kualitas film berbasis AI masih kurang jika dibandingkan dengan produksi film tradisional.
Meskipun inovasi dan kreativitas terus berkembang dalam industri perfilman, tantangan untuk menggabungkan teknologi dengan kepekaan manusia tetap menjadi isu penting yang perlu dibahas lebih lanjut. Dengan perkembangan yang cepat, masih diperlukan kolaborasi yang harmonis dan konstruktif antara manusia dan teknologi dalam menciptakan karya-karya yang dapat menghormati kedua pihak ini.







