Aktris senior Yurike Prastika mengisahkan perjuangannya melawan kanker payudara yang telah mencapai stadium 4 hingga akhirnya dinyatakan bahwa sel kanker dalam tubuhnya telah tidak aktif. Di tengah tantangan tersebut, ia berusaha untuk tetap produktif, menjalani pengobatan, dan bekerja di dunia hiburan Indonesia.
Pengalamannya dibagikan dalam sebuah podcast yang diunggah baru-baru ini, di mana ia menceritakan bagaimana perjalanan medisnya mengubah pandangannya tentang kehidupan. Melalui wawacara itu, Yurike mengungkapkan harapannya untuk sembuh meski harus bertahan dengan proses kemoterapi yang melelahkan.
Perjuangan dan Harapan di Tengah Kesakitan
Yurike mengenang momen ketika dokter memberitahunya bahwa hasil PET scan menunjukkan kondisi kanker tidak aktif. Keterkejutannya saat mendengar kabar tersebut menandai titik balik dalam perawatannya, membawa rasa syukur dan harapan baru dalam hidupnya.
“Awalnya, saya berpikir kanker ini masih di stadium 3,” ujarnya, mengisahkan momen awal diagnosis yang mencemaskan. Ketika dokter mengkonfirmasi kanker telah mencapai stadium 4, ia merasa terjebak dalam siklus bolak-balik rumah sakit.
Proses kemoterapi yang dijalani Yurike tidaklah mudah. Ia mengalami penurunan jumlah sel darah putih yang memerlukan suntikan obat tambahan untuk menjaga agar proses pengobatan dapat terus berlangsung.
“Ketika sel darah putih turun, saya harus suntik lekogena beberapa kali. Ini semua demi bisa melanjutkan pengobatan,” tambahnya dengan keteguhan hati. Meski sedang menjalani pengobatan, ia tetap aktif bekerja di dunia film.
Sementara menjalani kemoterapi ketiga, Yurike mengungkapkan pengalaman syuting film dan series. “Saya merasa beruntung meski dalam kondisi tersebut, masih bisa bekerja,” tandasnya.
Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri
Setelah melewati rangkaian pengobatan yang penuh liku, Yurike kini menyandang status sebagai penyintas kanker. Ini membawanya kepada pelajaran berharga tentang ketahanan dan kekuatan jiwa. Diakuinya, pengalaman sakit membuatnya lebih sabar dan memahami arti dari kedamaian diri.
Dalam perjalanan hidupnya, ia berharap agar orang-orang tidak memandangnya sebagai korban atau orang sakit yang perlu dikasihani. “Saya ingin diterima sebagai orang biasa yang juga memiliki mimpi dan harapan,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Dari pengalaman ini, ia menyadari pentingnya merelakan ego dan bisa mencintai diri sendiri. “Tuhan memberikan penyakit ini untuk membuat saya lebih kuat dan lebih sabar,” tambahnya. Dia berusaha melepaskan amarah dan berfokus pada kebaikan dalam hidupnya.
Sikap Positif Menuju Pemulihan yang Diharapkan
Yurike dalam perjalanan sembuhnya tidak hanya berfokus pada medis, tetapi juga spiritual. “Jalan hidup ini memberikan banyak pelajaran, terutama tentang mengandalkan Tuhan,” ungkapnya dengan perasaan bersyukur. Dia menyakini bahwa dengan menjalani proses tersebut dengan ikhlas, Tuhan akan mendampinginya.
Penting bagi Yurike untuk menjaga hubungan dengan lingkungan positif. “Bergaul dengan orang-orang yang bisa memotivasi dan membawa semangat sangat membantu,” tambahnya lagi. Pergaulan yang baik memnudahkannya dalam menjalani pemulihan.
Sebagai bagian dari proses penyembuhannya, ia berusaha mengasah pola pikir yang lebih terbuka. Dalam pikirannya, bersyukur adalah langkah awal untuk mendapatkan kebahagiaan walau dalam situasi sulit.
Yurike juga membagikan pentingnya menjaga kesehatan dan memperhatikan asupan makanan. “Saya paham bahwa kesehatan adalah harta yang paling berharga,” ujarnya dengan penuh kesadaran. Hal ini berkontribusi besar pada ketahanan fisiknya selama menjalani perawatan serta pemulihan. Ini mencakup makanan bergizi yang mendukung sistem imun tubuhnya.
Akhir bulan lalu, ia mengungkapkan bahwa perlu waktu sekitar lima tahun sebelum dinyatakan bebas dari kanker. “Untuk saat ini, saya harus sabar dan terus menjalani pengobatan,” jelasnya dengan semangat. Selama menunggu, dia berusaha menciptakan kehidupan yang positif dan produktif.







