Presiden Prabowo Subianto mengemukakan keprihatinan mendalam mengenai ketidakberdayaan Indonesia dalam memproduksi kendaraan bermotor, meskipun negara ini telah merdeka selama lebih dari delapan dekade. Ia menyoroti frekuensi pembelian sepeda motor yang mencapai sekitar 10 juta unit per tahun, tanpa adanya pabrik mobil yang beroperasi di dalam negeri.
“Kenapa kita tidak punya pabrik? Kita membeli 10 juta motor setiap tahun, tetapi tidak ada yang bisa diproduksi di negara kita sendiri,” ungkap Prabowo dalam acara Sarasehan Kebangsaan yang diadakan di Jakarta. Pertanyaan ini mencerminkan kekecewaan Presiden terhadap kondisi industri otomotif nasional.
Prabowo mengaku ketidakpuasan ini menjadi salah satu motivasi bagi dirinya untuk mencari jawaban. Ia menjelaskan bahwa selama ini ia sering berdiskusi dengan para akademisi untuk mengeksplorasi alasan di balik ketergantungan Indonesia pada negara lain dalam sektor-sektor strategis.
Upaya Mencapai Kemandirian Industri Nasional
Presiden Prabowo menyadari bahwa salah satu kunci untuk mencapai kemandirian industri terletak pada pengembangan kapasitas dalam negeri. Ia mengungkapkan bahwa pertanyaannya terkait pabrik mobil dan motor bukanlah omong kosong, melainkan cerminan dari kerisauan yang mendalam. Dalam berbagai diskusi, ia memfokuskan perhatian pada sektor pertanian dan industri.
Selama bertahun-tahun, Prabowo mengadakan dialog dengan tokoh-tokoh dari berbagai bidang, termasuk pendidikan dan industri. Ia ingin mendapatkan gambaran lebih jelas tentang kelemahan dan potensi yang dimiliki Indonesia dalam menciptakan produk-produk lokal.
Salah satu topik yang dibahas adalah ketidakmampuan Indonesia untuk memproduksi benih gandum sendiri. Ternyata, masih ada ketergantungan besar pada impor, yang menurutnya sangat memprihatinkan. Pertanyaannya, mengapa negara yang kaya sumber daya alam ini masih tergantung pada produk luar?
Perubahan dan Pengembangan Kendaraan Lokal
Meski banyak tantangan yang dihadapi, Prabowo optimis bahwa Indonesia sedang berada di jalur yang tepat untuk menciptakan industri otomotif yang mandiri. Ia menunjukkan kebanggaannya ketika menggunakan Maung MV3 Garuda Limousine, kendaraan berpresiden yang dirancang dan dirakit oleh industri dalam negeri. Kendaraan ini adalah simbol kemajuan pertumbuhan industri lokal yang selama ini diharapkan.
Prabowo menyatakan kendaraannya belum sepenuhnya menggunakan komponen lokal. Dia menyadari bahwa tidak ada mobil di dunia ini yang terbuat dari 100 persen komponen lokal. Namun, ia tetap berpegang pada prinsip bahwa jika kandungan lokal mencapai 65-70 persen, maka itu sudah pantas disematkan label sebagai produk buatan Indonesia.
“Saya merasa bangga mengendarai mobil yang dibuat di negeri sendiri. Desainnya asli Indonesia dan diproduksi di sini, meski tidak sepenuhnya,” tambah Prabowo mengenai komitmennya terhadap produk lokal.
Tantangan dalam Pengembangan Produksi Nasional
Di balik semangat tersebut, Prabowo tidak menutup mata terhadap berbagai kekurangan yang ada. Ia menceritakan momen ketika mobil presiden mengalami kebocoran pada saat hujan lebat. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi industri otomotif dalam negeri untuk terus berinovasi dan memperbaiki kualitas produk mereka. Pengalaman tersebut justru membuatnya semakin bersemangat untuk mendorong perbaikan.
Prabowo mengungkapkan bahwa masalah yang dihadapi bukanlah alasan untuk menyerah, melainkan merupakan bagian dari proses yang harus dilewati. Ia meminta pihak terkait, seperti Direktur Utama PT Pindad, untuk memperbaiki setiap kekurangan yang ada pada kendaraan nasional tersebut, sehingga ke depan bisa lebih baik lagi.
“Ini adalah langkah berani. Kita harus bisa dan tidak boleh berhenti berinovasi dalam industri dalam negeri,” tegasnya. Ia berusaha menunjukkan bahwa tantangan dalam pengembangan produk lokal tidak seharusnya menghalangi kemajuan industri otomotif nasional.





