Mantan CEO Disney, Bob Iger, baru-baru ini mengungkapkan keinginannya untuk mengakuisisi waralaba James Bond, sebuah langkah yang menarik perhatian banyak pihak. Pengakuan ini muncul di tengah pembicaraan mengenai berbagai akuisisi strategis yang dilakukan Disney, termasuk Pixar, Marvel, dan Star Wars.
Dalam sebuah wawancara dengan media terkemuka, Iger menjelaskan bahwa meskipun ada cita-cita besar untuk menambah koleksi waralaba, Disney pada akhirnya tidak berhasil mendapatkan hak atas Bond. Saat ini, waralaba ikonik tersebut telah berada di bawah kepemilikan Amazon.
Iger mengaku bahwa akuisisi merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan daya saing dan memperluas portofolio. Ia menambahkan bahwa terdapat banyak pembicaraan mengenai akuisisi berbagai waralaba untuk memperkuat posisi Disney di industri hiburan.
“Kami membuat daftar target akuisisi yang harus dilihat,” kata Iger. Disney menjadikan Pixar sebagai prioritas utama, yang terbukti menjadi keputusan penting setelah akuisisi tersebut.
Pada 2006, Disney berhasil mengakuisisi Pixar seharga $7,4 miliar, yang diikuti kemudian oleh kesepakatan dengan Marvel dan Star Wars. Momen-momen tersebut menjadi simbol transformasi perusahaan di tengah persaingan industri yang ketat.
Upaya Akuisisi yang Gagal dan Kejutan dalam Strategi Iger
Iger menceritakan bahwa selama periode tersebut, James Bond menjadi salah satu tujuan utama yang ingin dicapai. Eksplorasi atas waralaba tersebut menjadi indikator dari ambisi besar Disney untuk memperluas dan menguatkan brand-nya.
Namun, dalam perjalanannya, ia mengakui terdapat banyak halangan yang membuat akuisisi itu mustahil dilakukan. Resiko yang terlalu besar dan pesaing yang tangguh menjadi alasan utama di balik kegagalan tersebut.
Sebagai tambahan, Iger juga berbagi cerita tentang bagaimana ia hampir membeli Twitter dari Jack Dorsey. Rencana ini dimaksudkan untuk menjadikan platform tersebut sebagai alat distribusi global yang dapat mendukung Disney secara keseluruhan.
“Sebelum kesepakatan final, saya mulai meragukan keputusan itu, karena saya khawatir Twitter akan menjadi gangguan besar bagi Disney,” ungkapnya. Pada akhirnya, Elon Musk menjadi pembeli Twitter dengan nilai yang sangat tinggi, melanjutkan perubahan besar pada platform tersebut.
Kemudian, Iger menggambarkan perasaannya terhadap kesepakatan akuisisi dari berbagai sudut pandang. Nilai dari kesepakatan yang dilakukan, berdasarkan pengalamannya, memang menawarkan peluang yang luar biasa bagi industri hiburan.
Pertimbangan Merger Antara Disney dan Apple yang Tidak Terwujud
Tidak hanya itu, Iger juga menyinggung mengenai hubungan antara Disney dan Apple. Ia mengklaim bahwa pernah ada pembicaraan serius mengenai kemungkinan merger yang jika terlaksana bisa mengubah dinamika pasar.
Dalam diskusi tersebut, Iger sangat berharap bahwa sinergi antara kedua perusahaan bisa menghasilkan sesuatu yang monumental. Namun, harapan tersebut belum diterjemahkan menjadi realitas, mengingat ketidakpastian yang ada.
Menurut Iger, jika Steve Jobs masih hidup, kemungkinan besar percakapan mengenai merger tersebut akan lebih serius dan mungkin bahkan membawa hasil yang lebih positif.
Di samping itu, Iger menegaskan bahwa Apple pada saat itu tidak menunjukkan minat yang cukup untuk melanjutkan pembicaraan lebih lanjut. Hal ini menjadi bagian dari refleksi strategi yang diambil oleh masing-masing perusahaan.
Dalam memoar yang ditulisnya, Iger mengungkapkan kekecewaannya terhadap peluang yang hilang tersebut. Ia percaya bahwa Disney dan Apple memiliki potensi besar jika bersatu dalam kekuatan yang lebih besar.
Transformasi Disney di Era Kepemimpinan Iger dan Rencananya ke Depan
Setelah mengundurkan diri dari posisi CEO, Bob Iger masih berperan penting dalam peta industri hiburan dengan bergabung di perusahaan modal ventura Thrive Capital. Ini menjadi langkah strategis baginya untuk tetap berkontribusi dalam dunia bisnis.
Iger menggantikan posisinya di Disney pada Maret 2026, dan kemudian mengambil posisi baru yang mengindikasikan bahwa ia masih terus ingin terlibat dalam proyek-proyek perubahan dan inovasi.
Ia melihat peluang di Thrive Capital sebagai cara untuk menjembatani pengalaman luasnya dalam industri dengan kekuatan investasi yang sedang dijalankan. Dengan dukungan yang tepat, Iger berharap untuk berkontribusi lebih banyak dalam proyek-proyek yang relevan.
Pada saat yang sama, langkah ini memperlihatkan ketahanan Iger dalam menghadapi tantangan dan responsif terhadap perubahan lingkungan bisnis yang sangat dinamis. Melalui pengalaman dan wawasan yang didapatkan selama bertahun-tahun, ia berusaha merumuskan strategi yang lebih baik.
Rencananya untuk terus berkembang, serta kemampuannya untuk mendominasi pasar hiburan menjadi satu aspek menarik dalam perjalanan karir Iger ke depan.







